Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2021

PENINGGALAN BERSEJARAH DI KARANG KOPEK

 PENINGGALAN KOLONIAL BELANDA DI KARANG KOPEK Indonesia pernah dijajah oleh Belanda dan merdeka pada 17 agustus 1945. Selama Belanda menjajah Indonesia, pemerintah Hindia Belanda kala itu membangun infrastruktur untuk mengangkut hasil pertanian dan perkebunan dari Indonesia ke negeri Belanda sana. Diantara infrastruktur yang dibangun adalah pelabuhan, jalan dan rel kereta api. Wilayah Karang Kopek dahulu merupakan perkebunan tebu, pada sisi selatan dusun ini terdapat jalur kereta tebu yang kita kenal dengan nama lori atau munthit

DAFTAR RADIO SIARAN DI MAGELANG DAN JOGJAKARTA

  DAFTAR RADIO SIARAN YANG BISA DIMONITOR DI PERBATASAN MAGELANG - JOGJA   JALUR AM-MW 711 Khz Swara Koncotani 783 Khz Swara Kenanga 801 khz RRI Semarang 855 Khz Joss 1107 Khz RRI Yogyakarta 1179 Khz Unisia 1323 Khz Kartika Indah Swara Jogja 1395 Khz radioMU JALUR AM-SW  3325 Khz Voice of Indonesia 18.00 - 24.00 WIB 4050 - 4150 Khz Aktivitas breaker 80 meter band mode AM 4750 Khz Voice of Indonesia 17.00 - 24.00 WIB JALUR FM 87.6 Unima Magelang 87.9 Armasebelas Jogjakarta 88.3 Radio Q Jogjakarta 88.7 I-radio Jogjakarta 88.9 Radio Jamu 89.1 Pesona Bara Bantul 89.5 JIZ Jogjakarta 90.1 Fast Tegal Rejo Magelang 90.3 Sasando Jogjakarta 90.5 Radio Jamu 90.7 UTY Medari Sleman Jogjakarta 90.9 Radio Jamu 91.1 Pro 1 RRI Jogjakarta 91.3 G2 Wonosobo 91.5 Best FM Magelang 91.7 Wahyu Purworejo 91.9 Thomson Jogjakarta 92.1 Pesona Wonosobo 92.3 MQ Jogjakarta 92.7 MBS Jogjakarta 93 CBS Magelang 93.4 Banjar Banjarnegara 93.7 Ramada Wonosobo 93.8 Megaswara Kulonprogo 94.2 Persatuan Bantul 9...

GRUP SHOLAWAT REBANA SYUBBANUL KIROM

Gambar
 SYUBBANUL KIROM   Dokumentasi peringatan Hari Santri Nasional MWC NU Ngluwar   Syubbanul Kirom adalah grup sholawat rebana asal dusun Karang Kopek, Ngluwar yang dibentuk oleh pemuda-pemudi pada awal '90-an dan diprakarsai oleh beberapa tokoh masyarakat waktu itu. Dalam perkembangannya grup sholawat ini tetap eksis hingga kini, walaupun jumlah personelnya semakin sedikit. Banyak cerita yang mengesankan kalau meruntut ke masa pembentukan hingga pengumpulan kas untuk pembelian perangkat rebana kala itu. Para pemuda waktu itu sampai mencari pasir untuk dijual dan hasilnya untuk beli rebana. Seiring dengan perkembangan waktu kala itu, kas terkumpul dan rebana pun bisa terbeli. Latihan demi latihan pun rutin dilakukan, kebetulan ada warga dusun yang bisa melatih dan akhirnya pun bisa tampil dalam acara seperti selapanan bayi, tasyakuran dan pengajian. Grup sholawat rebana ini pun sampai sekarang tidak mematok tarif untuk warga dusun Karang Kopek yang menanggap, namun tidak men...